Alasan Mengapa Hari Jum’at Kliwon Disakralkan ?

malam jumat kliwon

Bukan suatu hal yang baru lagi. Menurut berkembangnya kepercayaan di Jawa, hari jum’at yang bertepatan dengan pasaran kliwon dianggap sebagai hari yang sakral atau keramat. Terlihat dari banyaknya ritual-ritual khusus yang dilakukan pada hari jum’at kliwon, hal ini memperkuat dugaan bahwa hari jum’at kliwon adalah hari khusus dan istimewa bagi orang-orang Jawa. Alasan Mengapa Hari Jum’at Disakralkan ? Ada beberapa pendapat berbeda tentang hal itu, namun jika dikaji dengan tradisi atau budaya jawa (kejawen), ada beberapa hal penting yang tidak diketahui oleh orang-orang dan ini menjadi hal menarik untuk Anda ketahui.

Menurut budayawan Jawa bilang, orang-orang jawa terkenal dengan ajaran kejawen yang dipegang teguh dalam bersikap dan bertindak sehari-harinya. Ajaran Jawa mengajarkan adanya kepercayaan sedulur papat limo pancer. Bermula dari dulu hingga sekarang, orang Jawa memiliki perhitungan (petung Jawa) tentang pasaran, hari dan bulan. Perhitungan hari maupun bulan yang dimiliki oleh orang Jawa dikaitkan dengan baik buruknya pasaran. Adanya perhitungan pasaran inilah yang juga mempengaruhi Alasan Mengapa Hari Jum’at Kliwon Disakralkan.

Sama halnya dengan tradisi orang Jawa yang sering diselenggarakan. Ruwahan misalnya, tradisi ruwahan sering kali diselenggarakan sebagai bentuk penggenangan leluhur kita. Diselenggarakan 10 hari sebelum puasa dan tradisi inipun diselenggarakan menurut tradisi dan adat dari masing-masing daerah atau pedukuhan.

Adanya lembaga yang didirikan sebagai bentuk tempat permusyawarahan guna mengkaji suatu hal-hal yang dianggap tidak biasa menjadikan tradisi-tradisi Jawa di diskriminasi sebagai tradisi yang menyimpang. Kendati demikian, para ulama mengesahkan tradisi-tradisi semacam itu, sebab menurut pandangan dari para ulama, perpaduan antara budaya Jawa dan Islam dianggapnya sebagai hal yang sah-sah saja.

Perlu Anda ketahui bahwa Islam bukanlah agama yang identik dengan kekerasan atau bahkan menyampingkan aqidah sebagaimana yang diserukan media-media masa di negara Barat sana. Islam mengajarkan Rahmatan Lil Alamin sebagai prinsip dasar dan dengan prinsip dasar ini mengartikan bahwa Islam bukanlah agama yang membanding-bandingkan dengan keyakinan lainnya.

Sebagai contoh pria non muslim pemilik Tasbih Karomah yang secara tiba-tiba dalam perjalanan dihentikan oleh dua perampok yang ingin mengambil harta bawaan yang dimilikinya. Meskipun Tasbih Karomah yang dimilikinya tidak dapat menolongnya, namun atas izin Tuhan Semesta Alam muncullah keberanian untuk melawan kedua perampok tersebut hingga pada akhirnya kedua perampok melarikan diri karena takut.

Bukan hanya dengan Tasbih Karomah , Tuhan Semesta Allah memberikan media atau sarana lainnya untuk bisa diambil manfaatnya oleh umat manusia. Sebut saja Mani Gajah dan Bulu Perindu, kedua media atau sarana pengasihan tersebut dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya. Dan para ulama juga mengesahkan penggunaan media atau sarana supranatural tersebut dengan syarat selalu mengimani Allah sebagai Tuhan Semesta Alam.

Sejatinya sama halnya dengan simpang siur yang terjadi pada kebudayaan Jawa. Dalam hal ini kita sebagai manusia yang terlahir sebagai makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya harus bijak dalam memutuskan suatu perkasa. Tuhan menganugerahkan pikiran kepada manusia untuk digunakan berpikir. Dengan pikiran sehat inilah kita bisa memutuskan mana yang boleh dan mana yang tidak, serta kita juga bisa mengetahui mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan.

Perkara tentang Alasan Mengapa Hari Jum’at Kliwon Disakralkan. Kita bisa kembali lagi pada ajaran Jawa yakni sadulur papat, kalmia pancer yang diketahui sangat penting. Menurut orang Jawa bilang, pasaran kliwon adalah tempatnya jiwa atau sukma berpusat sehingga jiwa dan sukma tersebut memancarkan daya yang berpengaruh pada Sadulur Papat/Empat Saudara atau unsur dari kelahiran.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *