Apakah Petis dan Terasi Itu Najis?

hukum sambal petis terasi

Petis adalah makanan yang di hasilan dari  pengolahan kaldu / sari udang atau ikan yang diberi bumbu-bumbu, sehingga berbentuk pasta yang berwarna cokelat kehitaman dan mempunyai aroma yang khas. Petis dapat dibuat dari udang atau ikan yang masih utuh, namun terkadang juga dibuat dari sisa-sisa udang pemanfaatan limbah kepala dan kulit atau sari ikan dari pembuatan pindang.

Sedangkan terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan atau udang yang difermentasikan yang berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam coklat, kadang ditambah dengan pewarna sehingga menjadi kemerahan.

Jika terasi atau petis tersebut dibuat dari ikan yang sudah dibersihkan kotorannya tentu tak jadi persoalan, yang jadi masalah adalah kalau ikan yang dipakai dalam pembuatan terasi atau petis itu belum dibersihkan kotorannya. Ulama’ madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam hukum kotoran ikan.

Pendapat pertama menghukumi najis kotoran ikan, seperti yang dikemukakan oleh Syeh Abu Hamid, Al Qodhi Abit  Thoyyib menambahkan jika kotoran ikan dihukumi suci maka jika ikan tersebut digoreng tanpa dikeluarkan kotorannya minyak goreng tersebut dihukumi mutanajjis. Pendapat yang menghukumi najisnya kotoran ikan adalah pendapat yang ashoh menurut Syeh Al Buroihami.

Menurut Imam Nawawi ini adalah pendapat yang diakui dalam madzhab. Ulama Iraq dan sebagian golongan ulama’ Khurosan juga mengikuti pendapat ini, sedangan sebagian ulama’ khurosan meriwayatkan satu pendapat yang lemah bahwa kotoran ikan hukumnya suci.

Sedangkan menurut pendapat yang kedua, kotoran ikan dihukumi suci, salah satu alasan yang dikemukakan oleh pendukung pendapat ini adalah bahwa jika bangkainya dihukumi suci, maka kotorannya pun tentu dihukumi suci, karena dalam bangkai pun tentu ada kotorannya.

Imam Ibnu Hajar, Imam Ziyad dan Imam Ar Romli dan ulama’ lainnya juga menyepakati ketetapan huum bahwa kotoran yang terdapat pada ikan-ikan kecil dihukumi suci dan boleh dimakan, karena itu benda-benda yang terkena kotoran tersebut seperti minyak goreng tidak najis bila terkena kotoran ikan tersebut. Bahkan menurut Imam Ar Romli hukum ini juga berlaku bagi ikan yang besar.

Penulis kitab Al Ibanah menilai pendapat yang menghukumi suci kotoran ikan  adalah pendapat yang Ashoh, bahkan Imam Al Rosyidi menganggap bahwa pendapat  yang menghukumi najis kotoran ikan adalah pendapat yang lemah, dan mengklaim bahwa pendapat yang menghumi suci kotoran ikan adalah pendapat yang mu’tamad. Wallohu A’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *