Bagaimana Bila Qurban dan Aqiqah menggunakan Ayam?

Bagaimana Bila Qurban dan Aqiqah menggunakan Ayam

Pada umumnya hewan yang di qurban kan atau dibuat aqiqah adalah kambing. Namun bagai mana bila keadaan hidup Anda serba kekurangan atau pas-pasan. Sedangkan setiap datang Idul Adha Anda selalu mendapatkan jatah daging qurban dari panitia qurban di kampung. Dan setiap Idul Adha pula Anda selalu berkeinginan untuk melakukan qurban seperti orang lain. Tapi keadaan Anda yang tidak memungkinkan.

Bahkan Anda juga sampai sekarang belum mengaqiqahi anak Anda yang sudah besar. dan pertanyaannya apakah pada saat Idul Adha sampai hari Tasyriq dimana Anda bisa mencukupi seluruh kebutuhan keluarga kemudian ada kelebihan, tetapi kelebihan tersebut hanya bisa untuk membeli ayam, apakah ada pendapat yang memperbolehkan qurban dengan ayam? Atau Begitu juga aqiqah dengan Ayam?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa berqurban hukumnya adalah sunnah mu`akkad. Kesunahhan ini tentunya tidak bisa diberlakukan kepada setiap orang, tetapi bagi yang memang sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Seperti halnya orang yang mampu.

Dalam konteks ini yang dimaksudkan orang yang mampu adalah orang yang memang mampu mencukupi kebutuhannya sendiri dan keluarganya serta memiliki kelebihan untuk berqurban pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) karena itu merupakan waktu untuk berqurban.  

“Dan yang dimaksud orang yang mampu adalah orang yang mampu berqurban sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyrik karena itu merupakan waktu berqurban” (Al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyati, I’anah ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 330)

Mengenai qurban dengan ayam itu sendiri memang ada salah satu ulama yang membolehkan. Pandangan tersebut berdasarkan dari Ibnu Abbas ra sebagaimana dipaparkan Ibrahim al-Baijuri dalam Hasyiyah-nya sebagai berikut:

“Dari Ibnu Abbas ra bahwa sesungguhnya qurban itu cukup dengan mengalirkan darah walaupun dari ayam atau angsa sebagaimana yang dikemukakan al-Maidani. Sedangkan guru kami rahimallahu menganjurkan orang fakir untuk bertaklid kepada pendapat tersebut. Beliau menganalogikan aqiqah dengan qurban, dan mengatakan boleh bagi orang yang memiliki anak untuk beraqiqah dengan ayam jantan menurut madzhab Ibnu Abbas” (Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Bairut-Dar al-Kutib al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, 1420 H/1999 M, juz, 2, h. 555)

Dalam artian Pandangan Ibnu Abbas ra tersebut bisa dibaca dalam konteks “ada seseorang yang hidup sehari-harinya pas-pasan tetapi pada saat Idul Adha sampai hari-hari Tasyriq ternyata kebutuhan dasar dirinya dan keluarganya ter cukupi. Seperti yang digambarkan dalam pertanyaan di atas. Namun kelebihan yang  dimiliki tidak cukup untuk membeli kambing, tetapi hanya bisa untuk membeli ayam, sedang ia berkeinginan berqurban.”

Maka jika mengacu kepada pendapat Ibnu Abbas ra berqurban dengan ayam bisa diperbolehkan, begitu juga dengan aqiqah. Meskipun mayoritas ulama menyatakan tidak sah berqurban dan beraqiqah dengan ayam.

Penjelasan singkat yang kami sampaikan diatas merupakan apa yang kami ketahui melalui beberapa sumber seperti kitab, hadits dan Alquran. Semoga yang kami tulis tersebut bermanfaat, dan saran kami pertahan kan terus keinginan dan semangat untuk berqurban. Sebab, keinginan itu menunjukkan Anda adalah orang sebenarnya mau berbagi dengan sesama. Wallahu a’lam bisshawab.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *