Bagaimana Hukum Membedah Mayat Dengan Tujuan Penelitian?

hukum membedah mayat

Para ulama' berbeda pendapat mengenai hukum operasi bedah mayat dengan tujuan penelitian ilmiah, berikut ini beberapa pendapat dan dalil yang dikemukakan :

Pendapat pertama

Operasi bedah mayat dengan tujuan tersebut tidak boleh (haram) dilakukan. Pendapat ini dikemukakan oleh Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi'i, Syekh Al-'Arobi Abu Iyad Al-Bathkhi, Syekh Muhammad Burhanudin As-Sinbahli, Syekh Hasan bin Ali As-Segaf, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab Buhairi. Dalil-dalil yang dipakai sebagai dasar dari pendapat ini adalah :

  1. Operasi pembedahan mayat adalah salah satu bentuk penghinaan terhadap manusia yang telah dimuliakan oleh Allah swt meskipun telah meninggal dunia. Allah swt berfirman dalam Al-qur'an : "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Q.S. Al-Isra' : 70)
  2. Operasi bedah mayat adalah satu bentuk penyiksaan yang dilarang oleh agama, sebagaimana yang dipesankan nabi pada pasukan yang akan berangkat untuk berperang, beliau berpesan ; "Berperanglah kalian dengan Nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah, perangilah dan janganlah kalian berlebihan, janganlah kalian mengingkari janji dan janganlah kalian menyiksa." (Shohih Muslim, no.1731)

Meskipun orang tersebut telah meninggal dunia, melakukan penyiksaan pada mayit, sama dengan melakukan penyiksaan pada orang yang masih hidup, sebagaimana dijelaskan dalam satu hadits ; "Memecahkan tulang belulang mayit seperti halnya memecahnya saat masih hidup" (Sunan Abu Dawud, no.3207, Sunan Ibnu Majah, no.1616, Shohih Ibnu Hibban, no.3167, Musnad Ahmad, no.23739 dan Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqi, no.7079)

  1. Beberapa hadits menjelaskan tentang larangan duduk diatas kuburan, karena hal tersebut dianggap tidak menghormati mayit, padahal duduk diatas kuburan tidak sampai bersentuhan langsung dengan mayit. Nah, jika duduk diatas kuburan saja tidak boleh karena merusak kehormatan mayit, apalagi sampai membedah bagian-bagian mayit, maka hal ini tidak diperbolehkan, dalam ushul fiqih pengambilan dalil dengan cara ini dinamakan "qiya aula" (menyamakan hukum sesuatu yang lebih berat dengan hukum yang lebih ringan, namun ada dalilnya).
  2. Dalam ilmu fiqih ditetapkan dua qaidah fiqih : "Suatu kemadharatan (bahaya) itu tidak boleh dihilangkan dengan kemadharatan pula "Tidak diperbolehkan melakukan kemadharatan bagi diri sendiri, dan tidak boleh melakukan kemadharatan pada orang lain"

Dari dua qaidah fiqih diatas disimpulkan, jika memang benar tujuan dari bedah mayat adalah untuk menghilangkan suatu madharat, yaitu untuk mempelajari suatu penyakit dan mencari obat yang tepat bagi penyakit tersebut, hal tersebut juga jangan sampai dilakukan dengan cara yang menimbulkan madharat pula, dengan merusak kehormatan mayit, karena kita diperintahkan untuk tidak melakukan kemadharatan, baik kepada diri sendiri maupun atau kepada orang lain.

Pendapat kedua

Operasi bedah mayat untuk tujuan penelitian dan pembelajaran kedokteran diperbolehkan. Pendapat ini dikeluarkan oleh beberapa lembaga fatwa, yaitu :

  1. Dewan Fatwa Universitas Al-azhar, Mesir
  2. Dewan Fatwa kesultanan Yordania
  3. Majma' Fiqh Al-Islami, Mekah
  4. Hai'ah Kibarul Ulama', Kerajaan Artab Saudi

Pendapat ini juga dipilih oleh beberapa ulama', seperti Syekh Dr. Muhammad Said Romdhon Al-Buthi, Syekh Dr.Mahmud Nadim Nasimi, Syekh Dr.Mahmud "ali As-Sarthowi, Syekh Yusuf Ad-Dajwi, Syekh Hasanain Makhluf dan Syekh Ibrohim Al-Ya'qubi.

Diantara dalil yang dipakai untuk mendasari pendapat mereka adalah :

  1. Kebolehan operasi tersebut diqiyaskan (diisamakan) dengan kebolehan
  1. Pembedahan perut wanita hamil yang sudah meninggal untuk mengeluarkan janin yang masih ada harapan hidup.
  2. Pemutusan janin untuk menyelamatkan ibu dari janin tersebut, jika memang kemungkinan besar ibunya akan mati jika janin tersebut tidak diputus.
  3. Pembedahan perut mayat untuk mengeluarkan harta benda yang ia ambil lalu ia telan.

Kesamaan nya adalah operasi bedah mayat dalam penelitian bertujuan untuk menyelamatkan nyawa orang yang sedang sakit dengan mengadakan penelitian pada orang yang sudah meninggal, meski dari satu sisi hal tersebut merusak kemuliaan mayat, namun kemaslahatan bagi orang yang masih hidup itu lebih diutamakan, seperti dalam kasus diperbolehkannya membongkar kuburan untuk mengambil kafan yang dipakai mayit, karena kafan tersebut hasil curian semisal, sebagaimana dijelaskan para ulama' ahli fiqih.

  1. Kebolehan ini didasarkan pada qaidah fiqih :"Apabila terjadi pertentangan diantara dua kemaslahatan (kebaikan), maka didahulukan yang paling kuat diantara keduanya, dan apabila terjadi pertentangan diantara dua kemafsadatan (kerusakan), maka yang paling ringan yang ditanggung"

Penerapan kaidah tersebut dalam masalah ini adalah, bahwa kemaslahatan yang dihasilkan dari operasi ini yang dilakukan pada saat mempelajari ilmu kedokteran kemanfaatan nya akan kembali pada semua orang, karena hasil dari penelitian tersebut digunakan sebagai acuan dalam mengobati penyakit, sedangkan kemaslahatan untuk tidak merusak kehormatan mayat adalah kemaslahatan yang bersifat individu (perseorangan), karena itulah kemaslahatan yang bersifat lebih umum yang didahulukan.

Qaidah fiqih lainnya yang menjadi dasar adalah :"Suatu perkara yang menjadi penentu terlaksananya kewajiban, maka perkara tersebut hukumnya wajib".

Penerapannya, mempelajari ilmu kedokteran dan cabang-cabang ilmu tersebut pada dasarnya adalah fardhu kifayah, sedangkan mempelajari ilmu kedokteran tersebut tak bisa dilakukan secara mendalam tanpa praktik secara langsung dengan melakukan operasi bedah mayat, maka dari itu hukum operasi tersebut bisa jadi wajib dari sudut pandang ini.

Meskipun operasi ini diperbolehkan, namun bukan berarti diperbolehkan secara mutlak, ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi ketika melakukan operasi ini. Berikut ketentuan-ketentuannya :

  1. Selama masih ada pengganti selain mayat, seperti hewan, maka tidak boleh menggunakan mayat sebagai bahan penelitian dan pembelajaran.
  2. Jika memang harus menggunakan mayat, maka sebisa mungkin untuk menggunakan mayat orang yang tidak dilindungi nyawanya (ghoiru ma'shum), seperti mayat orang kafir harbi (orang kafir yang memerangi orang islam). 
  3. Jika memang harus menggunakan mayat yang ma'shum (dilindungi nyawanya), dan mayat tersebut adalah milik seseorang yang diketahui identitasnya, disyaratkan untuk meminta izin kepadanya, sebelum ia meninggal, atau hal tersebut mendapat izin dari ahli warisnya setelah ia meninggal. Dan tidak diperbolehkan melakukan bedah mayat bagi orang yang dilindungi nyawanya, kecuali bila terpaksa dilakukan.
  4. Jika mayat tersebut berjenis kelamin wanita, maka hanya boleh dioperasi oleh dokter wanita, kecuali memang tidak ada lagi dokter wanita yang bisa melakukannya. Begitu juga dikecualikan bagi para pelajar, agar pemahamannya lebiuh mendalam.
  5. Diwajibkan untuk melakukan bedah mayat sebatas keterpaksaan (dharurat) dan kebutuhan (hajat) saja, agar mayat tidak dipermainkan dan tetap menjaga kehormatannya.
  6. Mengembalikan semua bagian mayat setelah operasi bedahnya selesai.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *