Benarkah Belajar Tanpa Guru Sama Saja Belajar Dengan Syetan?

belajar tanpa guru

Amirul mukminin ali bin abi tholib berkata, “tidak akan dapat ilmu yang bermanfa’at seseorang diantara kalian, kecuali dengan enam perkara, yaitu : harus cerdas, semangat, bersabar, memiliki biaya, memiliki guru pembimbing dan waktu yang lama.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Israa’:36)

Para ulama berkata: Janganlah kalian belajar ilmu dari orang yang belajar dari kitab tanpa belajar dari syaikh yang pintar, karena hal itu akan menjadikan Anda sesat, serta membelokkan pengertian. Dengan sendirinya ulama mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan perantara ilmu, seperti ungkapan dalam kaidah fiqh:

Perantara mempunyai hukum sama seperti tujuan. Yakni cara menghormati murid/pelajar kepada Masyayikh ataupun ustadz yang merupakan perantara untuk mendapatkan ilmu agama yang agung.

Rasulullah SAW. bersabda: Sesungguhnya Aku laksana orang tua bagi anaknya, yang mempunyai tujuan menyelamatkan dari api neraka, dan ini lebih penting daripada para orang tua yang menyelamatkan anaknya dari api dunia (ekonomi), dan dari situ hak pengajar ilmu agama lebih agung daripada kedua orang tua. karena orang tua sebagai sebab keberadaan anak di dunia fana, sedangkan Ilmu sebab mendapatkan kehidupan kekal Akhirat, dan Andai tidak ada pengajar, maka sesuatu yang timbul dari ayah menyelamatkan dari api dunia/ekonomi akan menggiring pada kerusakan selamanya.

Kata ustadz Al-Kholil bin Ahmad dari Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828, bahwasanya tipe manusia itu ada 4 macam:

  1. Seseorang yang mengetahui tentang sesuatu, namun dia tidak tahu kalau dirinya tahu tentang hal itu, itulah orang yang lalai maka ingatkan lah dia
  2. Seseorang yang tidak tahu tentang sesuatu, tetapi dia menyadari bahwa dirinya memang tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajari lah dia
  3. Seseorang yang mengetahui tentang sesuatu, kemudian dia mengetahui bahwasanya dia tahu, itulah orang yang pAndai maka ikutilah dia
  4. Seseorang yang tidak tahu tentang sesuatu, dan dia menyadari bahwa dia tidak tahu, namun dia mengajarkan hal itu kepada orang lain, itulah orang tolol maka jauhilah dia       

Ditambah lagi jika Anda belajar lewat internet, yang belum tentu sumber yang tertera pada tulisan tersebut adalah sumber yang benar. Berikut merupakan bahaya yang akan Anda terima ketika belajar dari internet :

  1. Dengan adanya sumber yang banyak, akan membuat Anda merasa pintar sehingga tidak perlu lagi untuk bertanya kepada para alim ulama ataupun guru. Padahal mungkin juga ada beberapa kata ataupun kalimat yang tidak bisa hanya dipahami ketika dibaca, karena dia butuh unuk dijelaskan. Seperti asbabun nuzulnya surat-surat dalam Al-Qur’an dan lain sebagainya.
  2. Karena merasa pintar, sehingga tidak akan bersilaturahmi kepada alim ulama’ ataupun guru. Padahal
  3. banyak manfaat yang akan Anda terima dengan bersilaturahmi kepada beliau.
  1. Internet tidak pAndai memilah-milah karena Internet juga gak ada gurunya, makanya yang belajar via Internet atau buku itu sesat dan menyesatkan jika tidak dibarengi dengan bertanya kepada guru.
  2. Internet itu rimba belantara. Tidak ada siapapun yang mengontrol benar dan salah tentang tulisan yang ada di internet. Sebagaimana di hutan dimana yang menjadi raja adalah yang paling kuat, di belantara internet, yang menjadi raja adalah yang paling tinggi rangking google rank-nya.

Kenapa belajar tidak cukup hanya dengan buku?

Karena guru akan menghindarkan Anda dari kesesatan dan fitnah. Juga menjaga Anda dari pemikiran yang keluar dari pikiran kosong, tanpa dalil dan referensi yang benar. Dan belum ada seorang ulama sepanjang sejarah ini yang lahir dari hanya belajar buku dan internet saja tanpa berguru kepada ulama lain. Yang ada hanyalah ulama yang sesat karena pikirannya sendiri.

Ilmu adalah keahlian dan setiap keahlian membutuhkan ahlinya, maka untuk mempelajarinya membutuhkan muallimnya yang ahli yaitu guru pembimbing.

Dari penjelasan di atas. Telah jelas bahwa : belajar tanpa guru sama saja dengan Anda belajar tehadap orang yang bodoh. Sehingga, Anda membutuhkan figur sebagai tempat bertanya. dan bukan berarti Anda tidak boleh belajar kepada buku ataupun internet. jika Anda telah mengetahui tentang banyak hal, khusunya yang mencakup tentang akidah, maka akan sangat baik lagi jika Anda belajar juga dengan para alim ulama'. agar kesesatan menjauhi Anda karena pikiran Anda sendiri. Wallahu a'lam bis showab.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *