Bolehkah Melaksanakan Syukuran Haji

syukuran jamaah haji

Melaksanakan Ibadah haji merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat islam yang mampu atau kuasa untuk melaksanakannya baik secara ekonomi, fisik, psikologis, keamanan, perizinan dan lain-lain sebagainya. Pergi haji adalah ibadah yang masuk dalam rukun islam yakni rukun islam ke lima yang dilakukan minimal sekali seumur hidup.

Yang dianggap mampu dalam Ibadah Haji yaitu:

  1. Sehat jasmani dan rohani tidak dalam keadaan tua renta, sakit berat, lumpuh, mengalami sakit parah menular, gila, stress berat, dan lain sebagainya. Sebaiknya haji dilaksanakan ketika masih muda belia, sehat dan gesit sehingga mudah dalam menjalankan ibadah haji dan menjadi haji yang mabrur.
  2. Memiliki uang yang cukup untuk ongkos naik haji (ONH) pulang pergi serta punya bekal selama menjalankan ibadah haji. Jangan sampai terlunta-lunta di Arab Saudi karena tidak punya uang lagi. Jika punya tanggungan keluarga pun harus tetap diberi nafkah selama berhaji.
  3. Keamanan yang cukup selama perjalanan dan melakukan ibadah haji serta keluarga dan harta yang ditinggalkan selama berhaji. Bagi wanita harus didampingi oleh suami atau muhrim laki-laki dewasa yang dapat dipercaya.

Setelah melaksanakan haji dan pulang ke rumahnya merupakan moment yang sangat ditunggu oleh keluarga, dan biasanya ketika setelah Jama’ah haji sampai kerumahnya masing-masing mereka mengadakan tasyakuran yang disebut sebagai walimatul naqi’ah yaitu walimah yang diadakan untuk selamatan orang yang datang dari berpergian (walimah haji), bahkan seorang yang telah melaksanakan haji di sunah kan mengadakan tasyakuran dengan menyembelih sapi, kerbau atau unta.

Hal ini sebenarnya bukanlah semata-mata tradisi belaka tetapi juga mengandung unsur ibadah yang jelas ada rujukan dalilnya sebagaimana diterangkan dalam salah satu kitab fiqih yaitu al-fiqh al-wadhih min al-kitab wa al-sunnah:

Artinya: “Di sunnah kan bagi orang yang baru pulang dari haji untuk menyembelih seekor onta, sapi atau kambing (untuk diberikan) kepada fakir, miskin, tetangga, saudara. (hal ini dilakukan) sebagai bentuk pedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi saw.”

Dalil ini berdasar pada hadits Rasulullah saw:

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah (usai melaksanakan ibadah haji), beliau menyembelih kambing atau sapi.”

Demikianlah adanya hadits dan anjuran tentang “walimatus safar” yang menandai rasa syukur atas segala karunia Allah swt yang diberikan kepada seseorang yang telah berhasil melaksanakan ibadah haji ataupun telah mampu melunasi biaya nya Ongkos Naik Haji (ONH). Karena juga sebagian daerah walimatus safar dilakukan sebelum pemberangkatan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *