Hukum Memanfaatkan Berkah Dari Benda-Benda Mati

Hukum Memanfaatkan Berkah Dari Benda-Benda Mati

Sebagai seorang muslim tentu saja kita wajib untuk mempercayai makhluk lain yang diciptakan oleh Tuhan. Setan dan Jin merupakan makhluk ghaib yang diciptakan Tuhan sebelum Adam diturunkan ke bumi. Memiliki sifat licik dan ingin menyesatkan kaum Muhammad, itulah karakteristik dari setan dan jin. Kendati demikian, Tuhan juga menciptakan jin dengan kepribadian yang baik dan taat terhadap penciptaNya.

Kelicikan-kelicikan yang dilakukan oleh para setan dan makhluk sejenisnya kadang kala menyesatkan seorang manusia untuk kemudian diarahkannya ke jalan neraka. Kadang kala kita menjumpai seorang manusia dengan pola pemikiran yang rendah. Tipikal seseorang yang seperti itulah yang menjadi sasaran para setan untuk kemudian dipengaruhi pikirannya hingga menjadi seorang hamba yang sesat.  Sebagai contoh adalah mempercayai benda-benda mati sebagai pengabdiannya guna mengharapkan berkah yang dikehendakinya.

Sejatinya seorang manusia akan lebih mudah di salah arahkan oleh setan ketika ia memiliki pola pemikiran yang rendah dan iman yang lemah. Mempercayai benda-benda mati sebagai pengabdian merupakan suatu bentuk kemusyrikkan yang akan menjadikan dirinya sebagai murtad (keluar dari agama Islam). Bila menjadikan benda mati sebagai pengabdian merupakan bentuk dari dosa besar. Lantas apakah Hukum Memanfaatkan Berkah Dari Benda-Benda Mati  juga merupakan dosa besar ?

Layaknya dengan kisah Nabi Sulaeman AS yang diberikan berkah berupa kekayaan yang melimpah oleh Tuhan. Beliau merupakan salah seorang nabi yang dimuliakan dan disucikan, oleh karenanya sebagai seorang hamba maka kita boleh bertabarruk atau mengambil manfaat dengan tata cara tertentu yang tidak melanggar aturan dari kepercayaan yang kita peluk.

Memanfaatkan keberkahan dari benda-benda mati pada dasarnya bukanlah suatu kemusyrikkan, bilamana Anda mengetahui tata cara pemanfaatannya, maka keberkahan yang Anda harapkan akan menjadi buah manis dari usaha yang Anda lakukan. Sebagai contoh adalah memanfaatkan Mani Gajah sebagai sumber pengasihan. Orang awam akan terjerumus dalam dosa bilamana ia tidak mengetahui bagaimana cara memanfaatkan benda mati yang dihasilkan dari perkawinan gajah tersebut untuk diambil dan diolah menjadi sumber energi supranatural.

Gajah yang dikenal sebagai binatang yang memiliki kebijaksanaan ini dijadikan sebagai sumber kekuatan guna mempengaruhi pola pikir seseorang sehingga pola pikir negatif yang dimilikinya dapat berubah menjadi pola pikir positif. Dengan syarat selama menggunakan Mani Gajah berlandaskan dasar izin dari Allah Ta’ala, maka keberkahan yang diperolehnya akan menjadi buah manis dari usaha lahiriyah yang dilakukannya.

Sebagai seorang manusia yang diberkahi akal dan pikiran oleh Tuhan dituntut untuk memahami setiap hukum yang ada di dunia ini. Dari kesimpulan yang dituliskan di atas, mengartikan bahwa hukum memanfaatkan benda-benda mati guna diambil manfaatnya merupakan salah satu bentuk sifat tabarruk. Pun juga selama Anda tidak mengagungkan benda mati layaknya Sang Pencipta, maka hal tersebut masih dalam batasan toleransi dan bukanlah suatu kemusyrikan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *