Inilah Hukum Menjual Daging Qurban

hukum menjual daging kurban

Sebagaimana yang sering terjadi dalam kepanitiaan qurban masa kini. Sedikit cerita yang sudah menjadi rahasia umum, menjelang siang hari waktu penyembelihan, mereka (panitia) menggunakan sebagian daging untuk dimasak dan dimakan bersama-sama, atau ada yang menjual sebagian daging qurban untuk membeli bumbu dalam rangka untuk makan siang panitia. Pertanyaan nya bolehkah hal itu dilakukan? dan apa hukum memakan masakan tersebut?

Pada dasarnya ibadah qurban dianjurkan kepada orang yang mampu melaksanakannya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan yakni para fakir miskin dan orang-orang yang kekurangan. Hal ini sebagaimana disinyalir dalam firman Allah swt dalam surat al-Hajj ayat 28:

Artinya: “Maka makanlah sebagian darinya (hewan qurban) dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara dan fakir.”

Dari ayat ini kemudian para ulama terutama madzhab Syafi’iyah membuat rambu-rambu bahwa seorang yang berqurban (selain qurban nadzar) dianjurkan untuk memakan sebagian daging qurban yang telah disembelih sekedar nya saja, dan yang lain dibagikan kepada yang membutuhkan.

Di samping itu orang yang berqurban tidak diperkenankan untuk menjual daging maupun kulit hewan yang disembelihnya meskipun untuk biaya penyembelihan (membayar tukang jagal dan sebagainya).

Mengingat panitia qurban yang dibentuk selama ini merupakan kepanjangan tangan dari pihak yang berqurban (wakil), maka hukum yang sama juga diberlakukan kepadanya, artinya daging qurban boleh dipergunakan untuk makan siang dan panitia tidak diperbolehkan menjual daging sembelihan meskipun hanya untuk membeli bumbu.

Oleh karena itu, guna menyiasati masalah seperti ini, banyak kepanitiaan yang membuat kebijakan untuk menerima hewan qurban disertai biaya yang dibebankan kepada orang yang berqurban mulai dari perawatan serta biaya-biaya operasional lainnya. Hal ini guna menghindari terjadinya penjualan daging qurban serta pembagian daging yang lebih meluas.

Dan jalan keluarnya adalah:

  • Inisiatif seperti ini tentu dibenarkan dalam kacamata fiqih madzhab Syafi’i. Solusi yang lain adalah diantara panitia, selain ada yang menjadi wakil, disiapkan pula panitia yang menyediakan dirinya untuk menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima) daging qurban agar ia mempunyai keleluasaan untuk memanfaatkannya. Ia boleh memasaknya dan juga boleh menjualnya.
  • Alternatif berikutnya adalah dengan mengikuti madzhab Hanafi yang memperbolehkan penjualan daging qurban oleh pelakunya (orang yang berqurban) sesuai dengan manfaat yang diperlukan baik dalam penyelenggaraan penyembelihan maupun pembagiannya kepada masyarakat.

Artinya: “Dan ketahuilah bahwa fungsi hewan qurban adalah untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu tidak diperbolehkan menjualnya, tidak diperbolehkan pula menjual kulitnya dan juga tidak boleh menjadikan hasil penjualan untuk upah tukang jagal meskipun qurban sunnah (bukan qurban nadzar). Menurut Abi Hanifah, menjual daging qurban dan menyedekahkan uang hasil penjualannya hukumnya boleh.”

Seperti telah disampaikan di atas, kami menyarankan, panitia qurban menyiapkan biaya khusus yang dibebankan kepada orang yang berqurban atau keluarganya untuk biaya perawatan serta biaya-biaya operasional lainnya. Itu pun jika diperlukan biaya, agar tidak perlu menjual daging qurban. Wallahu a’lam bisshawab.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *