Mitos Yang Dapat Merusak Aqidah Kaum Muslim

mitos atau fakta

Terlahir sebagai manusia dan memiliki dua pola pikir yakni logis dan supranatural sering kali menjadikan kita terperangkap seolah-olah didalam sebuah ruangan kosong dimana didalam ruangan tersebut sepi sunyi tanpa adanya sinar cahaya. Kondisi ruangan yang gelap tanpa adanya pencahayaan dan sepi menumbuhkan ketakutan pada diri kita sehingga pola pikir seseorang yang tadinya logis bisa mendadak menjadi supranatural. Namun sebagai kaum muslim sebaiknya harus hati-hati dalam menyimpulkan segala sesuatu, sebab keberadaan cerita misteri atau Mitos di masyarakat terkadang dapat merusak aqidah kaum muslim.

Mitos Yang Dapat Merusak Aqidah Kaum Muslim. Tidak sadar terkadang kita mempercayai adanya cerita misteri atau mitos yang diungkap oleh masyarakat, padahal cerita misteri yang diungkapnya belum tentu benar. Adalah contoh dari cerita menarik tentang mitos yang berkembang di Gunung Muria yang terletak di Kudus Jawa Tengah.

Terletak di sebelah utara dari pusat kota Kudus. Gunung Muria ternyata memiliki mitos bahwa pasangan yang dengan sengaja mendatangi daerah tersebut biasanya akan terlibat dalam pertengkaran yang tidak diketahui sebabnya hingga pada akhir pasangan tersebut berpisah. Menurut pendapat dari kebanyakan orang pintar di daerah Gunung Muria, konon kejadian semacam itu terjadi lantaran sifat usil yang dimiliki oleh makhluk-makhluk ghaib yang menjadi penunggu daerah tersebut.

Entah harus ditanggapi dengan cara logis ataukah harus meyakinkan diri kita bahwa memang pada dasarnya diri kita ini memiliki pola pikir lain yakni supranatural. Konon mitos bakal terjadinya pertengkaran antar pasangan yang berbuntut dengan perpisahan disebabkan karena makhluk ghaib penunggu daerah tersebut tidak senang jika melihat ada pasangan yang hendak mengotori daerah yang dianggap suci tersebut.

Selain dikenal dengan air terjun montel dan sumber air tiga rasa, Gunung Muria juga merupakan daerah dimakamkannya Raden Umar Said yang merupakan Sunan Muria. Karena ingin daerah tersebut tetap suci dari hal-hal kotor yang kadang kala dilakukan oleh manusia, penunggu daerah tersebut sengaja menganggu pasangan-pasangan atau muda-mudi yang datang ke daerah tersebut agar tidak menjadi noda yang dapat mengotori daerah suci yang juga menjadi makam Sunan Muria tersebut.

Cerita misteri atau mitos sebagaimana yang diceritakan di atas merupakan salah satu contoh keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang jahiliyah. Hal serupa merupakan wujud dari bangsa Arab jahiliyah yang meyakini adanya kesialan di bulan syawal, bilamana ada pasangan yang menikah pada bulan tersebut, maka pasangan tersebut akan dikelilingi dengan kesialan selama hidupnya.

Alasan orang-orang jahiliyah menganggap bulan syawal adalah bulan buruk untuk melakukan pernikahan adalah karena dasar nama syawal. Syawal yang berasal dari kata al-Isyalah wa al-raf'u yang artinya “onta betina yang mengangkat ekornya karena tidak mau di kawin” dan karena alasan inilah orang-orang jahiliyah meyakini bulan syawal sebagai bulan buruk untuk melangsungkan acara pernikahan.

Keyakinan akan mitos Gunung Muria merupakan gambaran yang sama dengan keyakinan yang dimiliki oleh orang jahiliyah. Jelas keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang jahiliyah adalah keyakinan batil serta tidak berdasar apapun. Tuhan telah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan dan pernikahan adalah acara sakral yang disenangi Allah karena menghindarkan umatnya dari perbuatan zina.

Allah SWT berfirman yang artinya :

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Firman Allah di atas mengabarkan bahwa baik dan buruknya sesuatu sudah ditentukan oleh Allah. Tuhan lah pemilik segalanya dan semua yang hidup di dunia ini akan kembali untuk menghadap kepada-Nya. Bahkan sebagai hamba kita tidak boleh mengimani media atau sarana yang menjadi perantara keberkahan seperti Tasbih Karomah, Mani Gajah, Bulu Perindu dan Azimat & Rajah.

Meskipun para ulama mengesahkan penggunaan media supranatural untuk diambil manfaatnya, namun bukan berarti kita bisa mengimani benda layaknya mengimani Tuhan. Memang media atau sarana supranatural akan memberikan barokah kepada penggunanya, pun juga tindakan tersebut dianggap sebagai tabarruk yang sah-sah saja bila dilakukan. Namun perlu Anda tahu bahwa barokah tersebut diturunkan oleh Tuhan kepada hambanya. Jadi, berusahalah menjadi kaum muslim yang tidak termakan dengan trend dan Mitos Yang Dapat Merusak Aqidah Kaum Muslim, sebab dunia adalah tempat diujinya keimanan kaum muslim.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *