Musyawarah Ala Rasulullah SAW

musyawarah ala nabi

Musyawarah memiliki bermacam-macam arti seperti berunding atau mengatakan dan mengajukan sesuatu. Atau dalam istilah-istilah lain dalam Negara Indonesia dan kehidupan modern tentang musyawarah dikenal dengan sebutan rapat atau demokrasi. Pada dasarnya kewajiban musyawarah hanya untuk urusan keduniawian.

Jadi musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut urusan keduniawian.

Musyawarah biasanya dilakukan ketika akan memutuskan sesuatu atau mencari jalan keluar yang tepat. Namun ketika bermusyawarah tahukah Anda tatacara musyawarah yang benar? agar musyawarah berjalan lancar tanpa kendala suatu apapun.

Terdapat tatacara musyawarah yang terbaik, cara ini diambil dari kisah menarik Rasulullah, ketika Rasulullah SAW mendapati 70 orang tawanan, beliau tak langsung memutuskan perihal apa yang akan dilakukan kepada para tawanan itu. Nabi Muhammad tentu bukan berarti tidak tahu apa yang terbaik dan seharusnya diputuskan sebagai balasan bagi puluhan kafir tertawan, sebab beliau Rasulullah. Beliau malah berinisiatif mengadakan pertemuan bersama dengan para sahabat guna membicarakan kebijakan terhadap tawanan tersebut.

Dalam forum musyawarah, Rasulullah bertanya kepada para sahabat terkait dengan 70 tawanan kafir. Sahabat Umar bin Khattab dengan lantang mengajukan usulnya (seperti yang kita tahu tentang sahabat Umar bin khattab, sahabat Umar dikenal sebagai mantan preman kafir yang telah beriman namun jiwa preman nya sangat masih lekat). Maka tanpa ragu, ia pun mengusulkan agar seluruh tawanan dibunuh, agar musuh jera terhadap kesalahannya.

Tentunya Rasulullah tidak langsung memutuskan usulan dari sahabat umar. Karena beliau dalam hal ini memang tidak sepakat dengan usulan dari sahabat Umar bin Khattab. Meski demikian, beliau mampu menyikapi nya dengan cara yang indah. Kepada Umar, Rasulullah mengatakan bahwa ide itu sangat bagus, mirip dengan karakter Nabi Nuh yang keras. Setelah itu Nabi kembali meminta usul dari sahabat lain, “Ada pendapat lain?”

Setelah Rasulullah membuka kesempatan bagi sahabat lain untuk menyampaikan ide, giliran sahabat Abu Bakar yang memberanikan diri bersuara. Dalam usulnya, sahabat Abu Bakar menyarankan untuk membebaskan para tawanan, sebagai strategi agar musuh menduga umat Muslim telah kuat sehingga tidak perlu menahan tawanan.

“Pembebasan tersebut dengan syarat, yang kaya harus membayar denda sejumlah empat dinar. Tapi bagi tawanan yang miskin, ditugaskan mengajari anak-anak membaca. Kalau sudah pada pintar, maka baru mereka dibebaskan,” kata sahabat Abu Bakar.

Dari pendapat-pendapat tersebut, Rasulullah lebih sepakat dengan usulan kedua, yakni membebaskan seluruh tawanan dengan syarat. Seperti saat menanggapi usul pertama, maka ketika menanggapi usulan kedua pun Rasulullah menisbahkan nya dengan karakter Nabi Ibrahim.

“Ini juga usul yang bagus. Jadi yang pertama mirip dengan Nabi Nuh, dan yang kedua ini mirip dengan Nabi Ibrahim. Hanya, saya lebih memilih yang kedua ini,” ujar Nabi.

Dengan tanggapan rasul yang sangat baik, maka sahabat Umar tetap merasa bangga karena Rasulullah telah memuji pendapat pribadinya, bahkan dinisbahkan dengan karakternya Nabi Nuh. Rasulullah telah menunjukkan contoh kepada kita, bahwa menolak pendapat mesti dengan cara yang halus. Lebih dari itu, kisah ini berpesan bahwa musyawarah tetap dibutuhkan agar mencapai kemufakatan yang indah di antara sesama.

Semoga kita semua bisa mencontoh cara bermusyawarah ala Rasulullah SAW, yang mana ketika beliau menanggapi sebuah pendapat menggunakan bahasa yang sangat baik sehingga siapa pun yang memberikan pendapat tidak merasa tersakiti apabila pendapatnya ditolak. Wallahu a’lam bisshawab.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *